Tidak semua orang lahir di waktu yang tepat.
Aku datang terlambat
setelah keberhasilan,
setelah kebanggaan,
setelah rumah ini pernah percaya pada masa depan.
Sebelum aku ada, hidup keluarga kami berjalan lurus.
Sekolah bagus.
Nama baik.
Rencana-rencana yang tidak pernah ragu.
Lalu aku lahir.
Dan setelah itu, segalanya mulai berantakan.
Tidak ada yang secara langsung menyalahkanku.
Tidak ada yang menunjuk wajahku sambil berteriak ini salahmu.
Tapi cara orang-orang memandangmu bisa lebih kejam daripada kata-kata.
Aku tumbuh dengan perasaan seperti barang rusak
yang datang bersamaan dengan hari sial.
Di sekolah, aku belajar bahwa diam tidak selalu berarti aman.
Di rumah, aku belajar bahwa keberadaan tidak selalu berarti diinginkan.
Dua puluh lima tahun kemudian,
seorang dokter menyebut kanker hati
dengan nada yang terlalu biasa untuk kabar sebesar itu.
Aku mengangguk.
Bukan karena siap mati,
tapi karena aku sudah lama hidup
dengan perasaan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar